Awas Penipuan Kripto di Tahun 2022 terulang di 2023

oleh -650 Dilihat
oleh

HarApanNEWS.COM – Sepanjang 2022 industri dan investor kripto alami waktu yang berat, masa crypto winter yang tiba diperparah dengan segelintir kehancuran perusahaan kripto besar yang memiliki dampak luas pada industri, sebut saja Terra, 3AC, Celcius, hingga FTX.Kehancuran ini pun tak lepas dari andil para pemiliknya.

Mereka kini dikenal sebagai “penipu” terbesar di industri kripto 2022 karena kerugian besar-besaran yang mereka timbulkan. Siapa saja mereka? Simak ulasannya di artikel berikut ini.Sam Bankman Fried dari FTX

Kebangkrutan FTX menyebabkan efek domino yang besar bagi industri kripto. Mantan CEO FTX, Sam Bankman-Fried (SBF) melakukan penyalahgunaan dana penggunanya hingga miliaran dolar, ia pun mengaku salah dan meminta maaf atas perilakunya

Namun masih banyak pertanyaan yang belum terjawab atas penggunaan ilegal dana pelanggan dan hubungan dekat bursa dengan perusahaan perdagangan Alameda Research.

Dalam laporan yang dibuat oleh Reddit token asli FTX (FTT) digunakan secara ilegal oleh SBF dan Alameda Research untuk kebutuhan perusahaan.Alur manipulasi FTX.

Pada 6 November lalu, saat spekulasi beredar bahwa token asli FTX (FTT) senilai US$584 juta (Rp9 triliun) ditransfer ke Binance sebagai bagian dari proses likuidasi.

Sebagian besar token FTT juga mengalami penurunan hingga kehilangan lebih dari 80% nilainya dalam 72 jam.

Kemudian, mulai dari 9 November 2022 lebih dari US$150 miliar (Rp2,3 triliun) terhitung tiga hari setelahnya, FTT mengalami kerugian nilai kapitalisasi pasarMeskipun FTX dianggap sebagai bursa kripto terbesar kedua setelah Binance, akan tetapi kehancurannya membuat crypto winter yang berkelanjutan di industri kripto.

Caroline Ellison dari Alameda ResearchCaroline Ellison merupakan CEO dari firma perdagangan kuantitatif bernama Alameda Research yang didirikan Sam Bankman-Fried pada pada 2017.Ia diketahui memiliki hubungan “dekat” dengan SBF dan terlibat dalam proses manipulasi dan penipuan yang menjadi salah satu penyebab FTX bangkrut

Kecurigaan akan keterlibatan Ellison dan Alameda ini dimulai pada 2 November 2022 CoinDesk merilis laporan berdasarkan data aset Alameda Research yang bocor.

Menurut data tersebut, Alameda mengklaim memiliki aset lebih dari US$14 miliar (217 triliun) pada akhir Juni 2022, yang sebagian besar terdiri dari token FTT.Dengan adanya kecurigaan tersebut, CEO Alameda Caroline Ellison membantah bahwa keuangan perusahaan terkendali dan manajemen perusahaan diatur dengan sebenar-benarnya Namun tampaknya kondisi pasar kripto saat itu khawatir, sehingga para trader dan investor mulai menarik dana mereka dari FTX.

Di samping itu, FTX memproses transaksi senilai US$4 miliar (Rp62 triliun) jauh lebih banyak dari volume rata-ratanya. Di tengah aksi jual dan penarikan besar-besaran oleh investor, dan pesanan tertunda, karena permintaan menumpuk.

Kemudian, CEO Binance, Changpeng Zhao mengatakan bahwa dia juga akan melikuidasi ekuitas FTT miliknya. Hal ini membuat jumlah transaksi meningkat menjadi US$6 miliar (Rp93 triliun), hingga sehari kemudian keuangan FTX merosot pada 7 November lalu.

Akhirnya Binance kemudian menawarkan untuk membeli perusahaan tersebut untuk mengatasi masalah likuiditas yang dialami oleh FTX. Namun sayangnya, keesokan harinya Binance mengurungkan niatnya untuk mengakuisisi FTX, karena melihat keuangan perusahaan yang terlalu buruk.

Alhasil, SBF mengundurkan diri dari posisi CEO di FTX pada 11 November 2022, serta Alameda dan FTX kemudian mengajukan kebangkrutan. FTX menjadi bursa kripto yang bangkrut terbesar hingga saat ini di industri kripto.Do Kwon dari Terraform Labs LunaDo Kwon. merupakan sosok terkenal di balik krisis stablecoin TerraUSD (UST) yang terjadi pada Mei 2022.

Kejatuhan itu mengirimkan gelombang kejutan di dunia kripto karena UST kehilangan pasaknya terhadap dolar AS dan menghapus dukungan dari aset sejenis non-stablecoinnya.LUNA , yang turun 99%, kehilangan kapitalisasi pasar miliaran dolar hanya dalam rentang waktu beberapa hari.

Hal ini menyebabkan sekitar US$200 miliar (Rp3,1 triliun) terhapus dari kapitalisasi pasar kripto.

Selengkapnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.